di waktu yang terus bergulir
aku pun kini terpaku di satu sisi
mencoba berarti, walau tersisih
dan penaku terus mengalir
mengikuti aliran darah
bersama kertas yang dipenuhi air mata
meratapi setiap kisah
Senyumku hanya ilusi
karena di setiap sudutnya ada tangisan
hingga luka ini mulai menganga
tawaku pun mulai sirna
Hanya sang bidadari kecil yang selalu menghiburku
dengan gelak tawanya membunuh secara perlahan tangisku
ya hanya sang bidadari kecil yang sanggup membuatku berdiri
untuk menggapapai mimpi tiada henti
Pangandaran, 31 Maret 2014


Tidak ada komentar:
Posting Komentar